Wisata Riung, 17 pulau dan keindahan terumbu karang

Dinginnya kaki gunung Ebulobo di kampung kelahiranku Natasule-Boawae tak menyurutkan niat ini untuk mengunjungi taman 17 pulau dan pulau kelelawar di Riung. Sesuai rencana, saya dan adik saya Sari akan berangkat dari Boawae menuju Riung melewati jalan tengah Boawae-Mbay. Setelah tertidur sejenak di depan televisi, panggilan Sari sontak mengejutkan saya, sudah jam 2 pagi, dan kami harus mengejar sunrise di Riung. Seduhan kopi arabica Bajawa yang dibuat Sari dan sebatang rokok cukup membuat saya melek, saya bergegas menuju teras, menyiapkan motor dan beberapa perlengkapan seperlunya.
Sesaat setelah sunrise di Lengkosambi (photo by Eto Tjeme)
Pagi pekat itu kami menembus kabut lembah kaki gunung Ebulobo, sempat mampir di SPBU Boawae, sayangnya tutup, bensin memang masih cukup namun alangkah bijak untuk mengisi sampai penuh, hanya berjaga-jaga. Melewati jalan tengah (Watugase-Rendu) kami tidak bisa terburu-buru, sepanjang jalan kabut tebal terus menyelimuti. Perjalanan yang seharusnya bisa 1 jam kami tempuh dengan hampir 2 jam.
Silhouette (siluet) di Bok S (photo by Eto Tjeme)
Setibanya di Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo, kami masih sempat mencari bensin, namun juga tutup, masyarakat Mbay rupanya masih terlelap dalam mimpi-mimpi indah mereka.
Kami terus berangkat menuju Riung, sunrise di Bok S Riung katanya sangat indah, kebetulan juga cuaca mendukung. Saat di Desa Lengkosambi, Kecamatan Riung, samar fajar timur mulai keluar dari peraduannya, cahaya keemasannya membuat saya berhenti sejenak untuk menikmati moment itu. Waow, keren, saya mengambil foto beberapa nelayan yang sudah mendapatkan rejeki dari tangkapan semalam.
perjalanan menuju puncak bukit Selatan Bok S (photo by Eto Tjeme)
Karena harus mengejar sunrise di Bok S sementara jarak dari Lengkosambi cukup jauh ke sana, maka saya tidak bisa berlama-lama di situ, segera kami menuju Bok S.
Di Bok S kami saksikan mentari terbit, OMG betapa indahnya!!
Teluk Lengkosambi dari Bukit S (photo bt Eto Tjeme)
Kami cukup lama di Bok S, berfoto-foto siluet dan menikmati sunrise, setelahnya kami ke bukit sebelah Selatan Bok S, kata masyarakat sekitar keindahan 17 pulau Riung bisa kita saksikan dari atas walau tidak semuanya.
Cukup menguras tenaga dan “itung-itung” olahraga kami tapaki bukit itu. Pemandangan dari atas bukit sangat indah, Tuhan memang tak pernah kehabisan view indah yang sudah Dia siapkan untuk kita, takkan pernah habisnya.
Gugusan beberapa pulau dari 17 pulau Riung (photo by Eto Tjeme)
Kami sarapan di bukit, bekal nasi telur yang Sari siapkan kami habiskan dengan lahapnya, bukan sarapan sebenarnya tapi lebih tepat kelaparan. 
Tambatan Perahu Riung (photo by Eto Tjeme)


Setelah cukup terik kami putuskan untuk turun karena juga harus mengejar kapal motor laut pagi untuk susuri beberapa pulau yang sering dikunjungi wisatawan di Riung.
Setibanya di Tambatan Perahu Riung, kami mencari kapal motor, bernegosiasi sedikit dengan pemilik kapal kami sepakat untuk sekali pakai (pergi-pulang) 350ribu.
Dari pelabuhan kami bertolak ke pulau kelelawar.
photo by Eto Tjeme
Riung merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Riung bisa ditempuh dari Mbay (ibukota Kabupaten Nagekeo, kurang lebih 50an KM), maupun dari Bajawa (ibukota Kabupaten Ngada, kurang lebih 70an KM). Biasanya wisatawan jarang melalui rute Mbay tetapi dari Bajawa.
photo by Eto Tjeme
Mungkin di samping Bajawa lebih mudah diakses dengan menggunakan pesawat, juga banyak objek wisata menarik lainnya jika melewati rute itu seperti kampung megalitikum Bena, pemandian air panas Soa dan air terjun Ogi sehingga wisatawan lebih memilih melewati Bajawa ketimbang Mbay. 
Kelelawar (kalong) bergelantungan pada dahan bakau di Pulau Ontoloe (photo by Eto Tjeme)
Kalaupun ada wisatawan yang memilih rute Mbay kemungkinan mereka juga dari tempat wisata lainnya di Ende (danau 3 warna kelimutu) atau Maumere (Koka Beach, Kajuwulu, Teluk Maumere).
Masyarakat Riung bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani, namun karena Riung masuk destinasi wisata unggulan Kabupaten Ngada maka tak sedikit juga masyarakatnya mengais rejeki di sektor ini. 
Rata-rata penghasilan pemilik kapal motor mengantar para wisatawan 700-800ribu per hari,
Pesisir Pulau Pasir Putih Rutong (photo by Eto Tjeme)
sehari bisa dua kali jalan tergantung jumlah pengunjung. Mayoritas penduduk Riung beragama Muslim.
Kebanyakan mereka adalah suku pendatang dari Bugis dan Selayar, Sulawesi Selatan yang sudah menempati Riung puluhan tahun silam.
Ada banyak penginapan di Riung dengan rata-rata 200ribuan tarif per malam, kalau mau yang lebih murah bisa mencari homestay.
Seperti yang pernah disinggung bahwa ada 17 pulau di Riung dengan luas keseluruhan gugusan 9.900Ha, ke17 pulau itu adalah Pulau Besar, Pulau Rutong, Pulau Ontoloe, Pulau Taor, Pulau Pau, Pulau Borong, Pulau Dua, Pulau Meja, Pulau Lainjawa, Pulau Halima, Pulau Patta, Pulau Bampa, Pulau Tiga, Pulau Tembaga, Pulau Sui, Pulau Kolong dan Pulau Wire.
photo by Eto Tjeme
Beberapa pulau yang dihuni pemiliknya adalah warga negara asing. Riung sendiri juga sebenarnya tak kalah dengan Bunaken, Raja Ampat ataupun Teluk Maumere untuk keindahan alam bawah laut. Di Riung juga ada biawak besar yang disebut Mbou, hampir sama seperti Komodo di Manggarai Barat namun ukurannya lebih kecil.
dari puncak Pulau Rutong (photo by Eto Tjeme)
Sayangnya taman laut dan Mbou tidak sempat kami kunjungi karena beberapa hal.
50 menit perjalanan, kami sampai di Pulau Ontoloe, yang merupakan tempat tinggal (habitat) ratusan ribu kelelawar. Kelelawar itu bergelantungan di dahan bakau/mangrove.
wisatawan sedang menikmati terumbu karang dan snorkling (photo by Eto Tjeme)
Setelah puas menikmati fenomena alam yang luar biasa itu kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Rutong (ada yang menyebutkan tempat ini dengan Rii Taa), pulau dengan pasir putih dan hijau toska lautnya yang memukau.
Saya cukup penasaran dengan view dari atas bukit pulau itu, rupanya jalan setapak menuju bukit juga tidak semudah yang dibayangkan, untuk mencapai puncak tanjakannya cukup sulit dan licin, saya harus merangkak dan sangat berhati-hati mengingat peralatan kamera yang saya bawa di tas, lalai sedikit saja maka akan jatuh. Sesampainya di puncak rasa capek itu terbayar lunas, benar-benar indah dan mengagumkan.
photo by Eto Tjeme
Matahari telah sangat teriknya dan sejajar lurus dengan kepala, saatnya kami kembali. Rasa lapar dan haus juga terus ‘mengusik’, perjalanan pulang 'diiringi' angin laut yang sejuk dan sepoy semakin menambah rasa kantuk. Sebenarnya bisa saja dari tambatan kita membeli beberapa ekor ikan segar untuk dipanggang di pulau pasir putih namun karena terlalu bersemangat jadinya lupa. Puji Tuhan untuk pengalaman hari ini. Semoga Riung selalu menjadi salah satu tempat wisata terbaik di Ngada dan NTT, ayo ke Riung!

Komentar

Postingan Populer